Search This Blog

Sunday, February 2, 2014

8 Kasih yang Sesungguhnya

1. Memberi tanpa diminta - Roma 5:8
2. Memberi tanpa ingin diketahui - Mat 6:4
3. Memberi lebih dari selayaknya - Mat
4. Memberi bukan karena sudah atau mau menerima - Luk 6:33
5. Memberi kepada org yg tidak layak menerima - Luk 6:27-28
6. Memberi dalam kekurangan - Mark 12:44
7. Memberi yang tidak dapat membalas - Luk 14:14
8. Memberi yang mendidik -Ibr 12:10

Monday, November 18, 2013

Sepatah Kata Saja

kedewasaan seseorang dilihat bukan dari usia. Tapi dari perkataan dan keputusan yg dia ambil.

Apa ciri orang dewasa?
Ibrani 5:14 -- bisa menguasai panca indranya.
Butuh latihan dan waktu untuk menguasai panca indra kita.
-Mulut: perkataan
-Telinga: pendengaran
-Mata: menguasai keinginan mata

Tuhan menciptakan dunia lewat perkataanNya.
Kej 1:26-27 Ia berfirman hanya pada manusia - yg serupa dengan Dia. Ia tidak berfirman kepada binatang dan tumbuh2an.
Oleh karena kita diciptakan serupa dgn Tuhan, maka kita jg memiliki kuasa yg sama seperti yg Tuhan miliki.
Adam diberikan kuasa utk memberi nama pada binatang dan tumbuh2an.

Ketika manusia jatuh dlm dosa, rancangan awal Tuhan tetap tidak berubah, namun karena dosa, kita seolah-olah kehilangan kuasa Allah. Oleh krn itu, ketika kita bertobay, tugas kita adlh mengembalikan hdp kita sesuai rancangan Allah yg semula.

Yoh 1:1-4
Firman telah menjadi manusia. Perkataan itu mjd suatu pribadi. Siapa kita terdengar dr perkataan kita. Kita bs menilai seseorang dr perkataan kita. Apa yg kita katakan menjadi identitas kita.

Kualitas kehidupan dilihat dari latihan untuk menguasai perkataan kita. Latihan butuh waktu dan proses. Apapun yg kita katakan dr mulut kita adalah benih yg lewat proses dan waktu akan tumbuh dan membentuk siapa kita di kemudian hari.

1. Perkataan kita bs menjadi takaran iman kita. Mat 8:5-8
Seringkali kita ingin terlebih dahulu melihat bukti dan jaminan atas jawaban dan janji Tuhan.

Roma 10:8-9 Perkataan iman sebenarnya sudah dilatih untuk kita perkatakan sejak kita diselamatkan. Saat kita bertobat, kita blm dan tdk melihat Yesus secara fisik dan tdk melihat sendiri perbuatan Yesus yg mati disalib untuk dosa kita. Kita hanya beriman dan percaya lewat perkataan iman kita saat mengaku bahwa Yesus adalah Yuhan atas hidup kita.

Hindari perkataan negatif dan latihlah diri kita setiap hati untuk mengucapkan perkataan iman.

Mengapa iman kita lemah? Karena kita tdk melatih perkataan kita sehingga kita menguasai panca indra kita. Semua hal besar terjadi dari perkataan yg keluar dr mulut kita.

2. Perkataan kita bisa menambah iman orang lain
Markus 5:27
Mengapa seorg perempuan yg sudah kehilangan harapan sejak 12 tahun yg lalu tiba2 memiliki iman yg sebesar itu?
Karena ia mendengar berita2 tentang Yesus, ada orang lain yg menjadi penyampai berita sukacita tentang kuasa kesembuhan Yesus sehingga membangun imannya.

Perkataan kita berpotensi membangun atau bahkan menjatuhkan orang lain. Efesus 4:29

Amsal 16:23-24 Perkataan kita bisa membawa pemulihan bagi kehidupan org lain.

Ketika kita menabur iman, kita akan menuai iman. Kita akan membangkitkan iman org lain ketika kita sudah memiliki iman dlm diri kita sendiri. Karena kita tdk bisa memberi apa yg tdk kita punya.

Kolose 3:16-17

Sunday, September 8, 2013

Better Not Bigger

Terkadang kita lebih mementingkan hasil, namun mengesampingkan prosesnya. Kita ingin cepat menjadi besar dan sukses, namun lupa untuk menjadi besar dan sukses, kita perlu melewati proses yang terus menerus dan berulang kali.

1. Availability, not ability
Tuhan mencari orang yang mau bukan yang mampu. Ketika kita meresponi panggilan Tuhan, Ia akan menambahkan kemampuan kita. (1 Kor 1:27-29)

2. Persistence, not perfection
Orang yang sukses bukanlah orang yang sempurna, tapi orang yang tekun dalam proses sampai berhasil. Jangan menyerah, tekun dalam proses. (Gal 6:9)

3. Inspiration, not intimidation
Dalam proses menjadi besar, ada kalanya kita jatuh. Jangan pernah menuntut dan mengintimidasi orang, menyalahkan orang dan pihak eksternal, tapi sadar bahwa segala sesuatu yang baik harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Seoarang pemimpin akan menguasai diri sepenuhnya dan memberi inspirasi untuk orang lain, mengubah keadaan dimulai dari diri sendiri.

Friday, July 6, 2012

Penyembahan yang Sebenarnya

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Yoh 4:23

Allah terlebih melihat hati kita daripada performance kita di atas mimbar. Tidak perduli sehebat dan sebaik apa persiapan yg kita lakukan untuk pelayanan mimbar kita, tapi Ia terlebih menilik setiap hati dan kehidupan kita. Bukan persiapan teknis yang terbaik tidaklah perlu, namun seharusnya imam-imam Lewi lebih memberikan porsi yang lebih banyak untuk persiapan hati dan hidupnya daripada persiapan teknis di atas mimbar, sebelum ia melayani Allah.

 Penyembah dan pelayan Lewi perlu trus menerus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap hidup dalam roh DAN kebenaran SETIAP HARI. Krn itulah pelayanan yg sesungguhnya dilihat Tuhan.

Mengucap Syukur

Ucapan syukur adalah bukti iman percaya kita kepada Allah. Ketika kita mengucap syukur dalam segala keadaan, hal tersebut artinya kita sedang mendeklarasikan bahwa Allah berdaulat atas hidup kita apapun keadaannya.

Ucapan syukur selain memperkuat iman kita juga menarik kuasa Allah bekerja dalam hidup kita. John R. Bisagno dalam bukunya, "The Power Of Positive Prayer" menyatakan, "Langkah pertama yang sangat efektif dalam doa adalah pujian dan ucapan syukur."

Bersungut-sungut adalah tindakan kebalikan dari mengucap syukur. Sungut-sungut mematahkan semangat. Selain itu sungut-sungut menghina Tuhan, karena kita telah berprasangka buruk terhadap-Nya. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut saat berada di padang gurun, Tuhan mengungkapkan kekecewaannya kepada Musa seperti ini, "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mukjizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!" (Bilangan 14:11).

Sekalipun dalam kehidupan ini, umat percaya tetap mengalami pencobaan, sakit penyakit dan terkadang bencana, namun kita harus tetap percaya bahwa Allah mengasihi kita dan percaya bahwa segala yang terjadi di ijinkan-Nya untuk mendatangkan kebaikan. Untuk itulah Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma seperti ini, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28).

Hari ini, mari awali hari kita dengan ucapan syukur. Apapun keadaan kita saat ini, kita patut menaikkan ucapan syukur kepada Allah.

Ucapan syukur mendatangkan kuasa dan berkat Allah dalam hidup kita.

Hidup Dengan, Oleh, dan Di Dalam Iman

Roma 1:16-17
Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.'"


Mengapa seseorang dapat bertobat secara radikal (atau tampaknya) dan begitu bergairah tentang iman baru mereka tapi kemudian tiba-tiba menyerah begitu saja?
Mereka tampaknya memiliki pengalaman pertobatan yang paling menakjubkan, tapi tiba-tiba, mereka berhenti dan pergi.
Bagaimana itu bisa terjadi?

Saya pikir orang yang seperti itu sebenarnya tidak pernah benar-benar bertobat dan diselamatkan.
Ini bukan tentang emosi sesaat, tetapi adalah tentang ujian waktu.
Jika seseorang adalah Kristen sejati, dia akan terus bertahan -- meskipun tidak sempurna dan disertai banyak kesalahan.
Seorang Kristen sejati tidak mungkin menjadi tersesat dan tidak pernah kembali.

Tetapi jika seseorang adalah benar-benar orang yang percaya, dia selalu akan kembali.
Jika mereka menyimpang dan tidak pernah kembali, berarti mereka tidak pernah benar-benar menjadi orang percaya yang sesungguhnya.
Seperti dikatakan dalam 1 Yohanes 2:19, "Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita."

Mungkin mereka membangun iman mereka pada pengalaman emosional, dan memang bisa ada pengalaman emosional dalam pertobatan, meskipun tidak selalu.
Tetapi Anda tidak dapat membangun hidup Anda pada landasan emosi, karena emosi datang dan pergi.
Seseorang yang mengharapkan bahwa kehidupan Kristen selalu dipenuhi oleh pengalaman emosional rohani setiap hari akan merasa kecewa ketika mereka bangun pagi dan tidak merasakan apa-apa.

Itulah saatnya untuk mulai bertumbuh dan berjalan dengan iman, bukan dengan perasaan.

Roma 1:17 mengatakan, "Orang benar akan hidup oleh iman."
Namun beberapa orang membangun hubungan mereka dengan Tuhan atas dasar pengalaman emosional, dan ketika emosi tidak ada, mereka menyerah.


Orang Kristen yang membangun hubungannya dengan Tuhan berdasarkan iman akan terus bertahan sampai kesudahannya.

Janji Tuhan

Bagi setiap orang yang percaya dan berharap, Tuhan memiliki janji yang indah untuk masa depan mereka. Namun seringkali mulut kita sendiri yang membatalkan janji itu dengan kata-kata yang negatif, tnp harapan, putus asa, dan ketidakpercayaan.

Ibrani 10:38
Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.

Seringkali masalah dan pergumulan yang berat membuat kita hampir mundur dari seluruh pengharapan kita akan Tuhan. Namun Tuhan ingin agar kita menaruh pengharapan kita dalam iman akan janjiNya bahwa Allah sedang bekerja dalam segala sesuatu untuk menggenapi rencanaNya atas hidup kita. Tetaplah berharap, karena kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa. Kita lebih dari pemenang!

Hamba Kristus

Galatia 1:10
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah HAMBA KRISTUS.

Seringkali kita menyebut diri kita pelayan, melayani Tuhan di gereja. Namun tanpa sadar kita bukanlah pelayan yang sejati jika kita masih mendahulukan kepentingan kita sendiri daripada kepentingan Allah, mencari kemuliaan dan kehormatan nama kita sendiri daripada kemuliaan dan kehormatan nama Allah, mencari perkenanan dan nama baik kita sendiri, dari pada perkenanan dan nama baik dari Allah.

Seperti layaknya seorang HAMBA, ia ada di posisi paling RENDAH yang seharusnya hanya TAAT pada kehendak "tuan"nya, karena tuannya yang telah "membeli" hak hidupnya, sehingga hambanya tidak lagi memiliki hak apapun terhadap dirinya sendiri. Ia telah menjual kehendak bebasnya untuk TAAT akan kehendak tuannya dan senantiasa MELAYANI tuannya.

Itu artinya, kita juga harus membuang kehendak bebas kita, ego kita, kepentingan kita, dan menyerahkannya kepada Allah.

Mari sadarkan diri kita sendiri bahwa kita adalah HAMBA nya Tuhan..

Everytime, Everywhere

Esensi ibadah bukanlah soal tata cara dan kegiatan yang dilakukan tetapi perjumpaan pribadi dengan Allah, yang pada akhirnya menghasilkan perubahan hidup.

Ibrani 10:19-23
19  Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
20  karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
21  dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
22  Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23  Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Tuhan menjamin bahwa kita DAPAT masuk ke dalam tempat kudus karena darah Yesus yang telah mnyucikan semua dosa kita.  Artinya, kita PASTI dapat berjumpa dengan Bapa karena kita memiliki Imam Besar yang telah menghapus dosa kita dengan darahNya sendiri.

Ia telah melakukan bagianNya, lalu apa bagian kita?  Bagian kita adalah memercayaiNya dengan penuh keyakinan iman kita yang teguh dan membersihkan hati nurani kita yang jahat DAN membasuh tubuh kita dengan air yang murni, yaitu firman tuhan, sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan.

Jangan lagi merasa terintimidasi untuk menghadap Bapa.  Kita BISA menghadap Bapa di mana saja, kapan saja, dalam kondisi apapun, ASAL kita mau bertobat dari segala kesalahan kita yang tidak berkenan di mataNya.

Thursday, December 29, 2011

Religious Fashion Show

Now Jesus turned to address his disciples, along with the crowd that had gathered with them.  “The religion scholars and Pharisees are competent teachers in God’s Law.  You won’t go wrong in following their teachings on Moses.  But be careful about following them.  They talk a good line, but they don’t live it.  They don’t take it into their hearts and live it out in their behavior.  It’s all spit-and-polish veneer.

Instead of giving you God’s Law as food and drink by which you can banquet on God, they package it in bundles of rules, loading you down like pack animals.  They seem to take pleasure in watching you stagger under these loads, and wouldn’t think of lifting a finger to help.  Their lives are perpetual fashion shows, embroidered prayer shawls one day and flowery prayers the next.  They love to sit at the head table at church dinners, basking in the most prominent positions, preening in the radiance of public flattery, receiving honorary degrees, and getting called ‘Doctor’ and ‘Reverend’.  

Don’t let people do that to you, put you on a pedestal like that.  You all have a single Teacher, and you are all classmates.  Don’t set people up as experts over your life, letting them tell you what to do.  Save the authority for God, let him tell you what to do.  No one else should carry the title of ‘Father’, you heaven only one Father, and he’s in heaven.  And don’t let people maneuver you into taking charge of them.  There is only one Life-Leader for you and them – Christ.  

Do you want to stand out?  Then step down.  Be a servant.  If you puff yourself up, you’ll get the wind knocked out of you.  But if you’re content to simply be yourself, your life will count for plenty.

Mathew 23:1-12 The Message


Saya rasa ayat ini bukan hanya berlaku untuk para pendeta, ahli teologi agama, atau bahkan siswa siswi STT saja.  Ayat ini juga berlaku untuk kita para pelayan Tuhan yang sering kali berkutat di dunia “rohani”, dalam pelayanan di lingkup gereja.

Seringkali secara tidak sadar, posisi dan jabatan kita dalam pelayanan di gereja membuat status sosial kita “naik”, menjadi lebih “tinggi” dari jemaat yang sekedar datang hari Minggu untuk beribadah.  Seolah-olah kita tampak lebih “suci” dan “hebat” dalam soal kerohanian daripada mereka.  Tentu saja kita lebih banyak menghabiskan waktu di gereja dalam pelayanan kita, belum ditambah kelas khusus untuk melengkapi para pelayan dengan firman Tuhan, persekutuan-persekutuan “wajib” bagi para pelayan, pertemuan-pertemuan doa, dan juga mungkin menghadiri lebih dari 1 kali kebaktian karena kita melayani beberapa kebaktian sekaligus.  Itu membuat kita, secara pengetahuan, akan mendapatkan lebih banyak porsi daripada jemaat.

Secara tidak sadar, kita membuat jati diri yang salah di hadapan manusia.  Di gereja, orang selalu mengenal kita baik, luar biasa, pelayanan yang berapi-api, punya hubungan yang intim dengan Tuhan.  Kita selalu terlihat dan tampak “suci” dan seakan tak pernah melakukan kesalahan dan dosa.  Namun, bagaimana kehidupan kita di luar gereja?  Bagaimana kehidupan kita sehari-hari?  Apakah integritas dan nilai-nilai yang selalu kita bicarakan di dalam gereja benar-benar ada dan tertanam dan kita lakukan dalam kehidupan kita?

Dengan level kita yang tadi kita katakan “lebih tinggi” dari jemaat, masihkah kita ada di level berjuang untuk tidak melakukan dosa?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk melakukan saat teduh kita setiap pagi?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk mengampuni orang lain?  Jika kita memang sudah “lebih tinggi” dari mereka, seharusnya kita sudah tidak ada lagi di level itu.  Tidak perlu lagi sesi pengampunan dosa dan pemulihan luka batin karena kekecewaan.

Secara tidak sadar, kita telah menjadi orang Farisi di gereja.  Tahu dan mengerti semua hal, namun tidak menghidupi kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.  Itu semua sia-sia, dan The Message menyebutkan bahwa itu semua hanya sebuah fashion show, memamerkan dan memakai segala sesuatu yang baik dari kehidupan kita, namun melepaskan dan meletakkannya kembali setelah fashion show tersebut berakhir, kemudian kembali memakai pakaian lama kita setelahnya.  Ketika kita memasuki “dunia rohani” kita, seringkali kita mengambil “baju terbaik” kita, dan menyembunyikan baju sehari-hari kita, jangan sampai mereka melihatnya, namun setelah “keluar” dari sana, kita kembali melepaskan baju terbaik tersebut dan kembali dengan kenyamanan “pakaian” lama kita setelah keluar dari gereja.

Ketika ada orang lain yang bertanya dan konseling kepada kita, kita dapat melontarkan berbagai macam ayat untuk menjawab setiap pertanyaan mereka.  Bahkan jika perlu “menyuruh” mereka berbuat ini dan itu seperti yang ditulis di Alkitab.  Seakan-akan kita menjadi lebih “tinggi” dari kita.  Ketika kita melakukan kesalahan, kita berusaha menutupinya dari orang-orang di lingkungan kerja sehingga mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupan kita. 

Saudara, jika kita boleh mengenal dan mengerti tentang keselamatan dan kebenaran, itu hanyalah sebuah anugrah yang luar biasa, dan tidak semua orang mendapatkan anugrah itu.  Itu bukan hasil kekuatan kita, namun hanyalah benar-benar sebuah anugrah.  Jika saat ini kita telah mengenal kebenaran, kita harus belajar untuk menghidupi kebenaran itu dalam keseharian kita.  Janganlah menjadi orang Farisi yang ada di dalam bait Allah.