Search This Blog

Friday, July 6, 2012

Everytime, Everywhere

Esensi ibadah bukanlah soal tata cara dan kegiatan yang dilakukan tetapi perjumpaan pribadi dengan Allah, yang pada akhirnya menghasilkan perubahan hidup.

Ibrani 10:19-23
19  Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
20  karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
21  dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
22  Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23  Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Tuhan menjamin bahwa kita DAPAT masuk ke dalam tempat kudus karena darah Yesus yang telah mnyucikan semua dosa kita.  Artinya, kita PASTI dapat berjumpa dengan Bapa karena kita memiliki Imam Besar yang telah menghapus dosa kita dengan darahNya sendiri.

Ia telah melakukan bagianNya, lalu apa bagian kita?  Bagian kita adalah memercayaiNya dengan penuh keyakinan iman kita yang teguh dan membersihkan hati nurani kita yang jahat DAN membasuh tubuh kita dengan air yang murni, yaitu firman tuhan, sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan.

Jangan lagi merasa terintimidasi untuk menghadap Bapa.  Kita BISA menghadap Bapa di mana saja, kapan saja, dalam kondisi apapun, ASAL kita mau bertobat dari segala kesalahan kita yang tidak berkenan di mataNya.

Thursday, December 29, 2011

Religious Fashion Show

Now Jesus turned to address his disciples, along with the crowd that had gathered with them.  “The religion scholars and Pharisees are competent teachers in God’s Law.  You won’t go wrong in following their teachings on Moses.  But be careful about following them.  They talk a good line, but they don’t live it.  They don’t take it into their hearts and live it out in their behavior.  It’s all spit-and-polish veneer.

Instead of giving you God’s Law as food and drink by which you can banquet on God, they package it in bundles of rules, loading you down like pack animals.  They seem to take pleasure in watching you stagger under these loads, and wouldn’t think of lifting a finger to help.  Their lives are perpetual fashion shows, embroidered prayer shawls one day and flowery prayers the next.  They love to sit at the head table at church dinners, basking in the most prominent positions, preening in the radiance of public flattery, receiving honorary degrees, and getting called ‘Doctor’ and ‘Reverend’.  

Don’t let people do that to you, put you on a pedestal like that.  You all have a single Teacher, and you are all classmates.  Don’t set people up as experts over your life, letting them tell you what to do.  Save the authority for God, let him tell you what to do.  No one else should carry the title of ‘Father’, you heaven only one Father, and he’s in heaven.  And don’t let people maneuver you into taking charge of them.  There is only one Life-Leader for you and them – Christ.  

Do you want to stand out?  Then step down.  Be a servant.  If you puff yourself up, you’ll get the wind knocked out of you.  But if you’re content to simply be yourself, your life will count for plenty.

Mathew 23:1-12 The Message


Saya rasa ayat ini bukan hanya berlaku untuk para pendeta, ahli teologi agama, atau bahkan siswa siswi STT saja.  Ayat ini juga berlaku untuk kita para pelayan Tuhan yang sering kali berkutat di dunia “rohani”, dalam pelayanan di lingkup gereja.

Seringkali secara tidak sadar, posisi dan jabatan kita dalam pelayanan di gereja membuat status sosial kita “naik”, menjadi lebih “tinggi” dari jemaat yang sekedar datang hari Minggu untuk beribadah.  Seolah-olah kita tampak lebih “suci” dan “hebat” dalam soal kerohanian daripada mereka.  Tentu saja kita lebih banyak menghabiskan waktu di gereja dalam pelayanan kita, belum ditambah kelas khusus untuk melengkapi para pelayan dengan firman Tuhan, persekutuan-persekutuan “wajib” bagi para pelayan, pertemuan-pertemuan doa, dan juga mungkin menghadiri lebih dari 1 kali kebaktian karena kita melayani beberapa kebaktian sekaligus.  Itu membuat kita, secara pengetahuan, akan mendapatkan lebih banyak porsi daripada jemaat.

Secara tidak sadar, kita membuat jati diri yang salah di hadapan manusia.  Di gereja, orang selalu mengenal kita baik, luar biasa, pelayanan yang berapi-api, punya hubungan yang intim dengan Tuhan.  Kita selalu terlihat dan tampak “suci” dan seakan tak pernah melakukan kesalahan dan dosa.  Namun, bagaimana kehidupan kita di luar gereja?  Bagaimana kehidupan kita sehari-hari?  Apakah integritas dan nilai-nilai yang selalu kita bicarakan di dalam gereja benar-benar ada dan tertanam dan kita lakukan dalam kehidupan kita?

Dengan level kita yang tadi kita katakan “lebih tinggi” dari jemaat, masihkah kita ada di level berjuang untuk tidak melakukan dosa?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk melakukan saat teduh kita setiap pagi?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk mengampuni orang lain?  Jika kita memang sudah “lebih tinggi” dari mereka, seharusnya kita sudah tidak ada lagi di level itu.  Tidak perlu lagi sesi pengampunan dosa dan pemulihan luka batin karena kekecewaan.

Secara tidak sadar, kita telah menjadi orang Farisi di gereja.  Tahu dan mengerti semua hal, namun tidak menghidupi kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.  Itu semua sia-sia, dan The Message menyebutkan bahwa itu semua hanya sebuah fashion show, memamerkan dan memakai segala sesuatu yang baik dari kehidupan kita, namun melepaskan dan meletakkannya kembali setelah fashion show tersebut berakhir, kemudian kembali memakai pakaian lama kita setelahnya.  Ketika kita memasuki “dunia rohani” kita, seringkali kita mengambil “baju terbaik” kita, dan menyembunyikan baju sehari-hari kita, jangan sampai mereka melihatnya, namun setelah “keluar” dari sana, kita kembali melepaskan baju terbaik tersebut dan kembali dengan kenyamanan “pakaian” lama kita setelah keluar dari gereja.

Ketika ada orang lain yang bertanya dan konseling kepada kita, kita dapat melontarkan berbagai macam ayat untuk menjawab setiap pertanyaan mereka.  Bahkan jika perlu “menyuruh” mereka berbuat ini dan itu seperti yang ditulis di Alkitab.  Seakan-akan kita menjadi lebih “tinggi” dari kita.  Ketika kita melakukan kesalahan, kita berusaha menutupinya dari orang-orang di lingkungan kerja sehingga mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupan kita. 

Saudara, jika kita boleh mengenal dan mengerti tentang keselamatan dan kebenaran, itu hanyalah sebuah anugrah yang luar biasa, dan tidak semua orang mendapatkan anugrah itu.  Itu bukan hasil kekuatan kita, namun hanyalah benar-benar sebuah anugrah.  Jika saat ini kita telah mengenal kebenaran, kita harus belajar untuk menghidupi kebenaran itu dalam keseharian kita.  Janganlah menjadi orang Farisi yang ada di dalam bait Allah.

Friday, August 12, 2011

Persembahan Hati yang Terbaik

Mazmur 51: 17  (51-19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang selalu mau merendahkan diri dan hatinya untuk senantiasa dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan dan berusaha tanpa henti untuk melakukan kebenaran.  Ketika kita gagal, respon kita yang Tuhan inginkan bukanlah hanya menangis menyesali diri dan terpuruk dalam dosa tersebut, tapi dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Tuhan dan terus mencoba melakukan yang terbaik bagi Tuhan.  Tentu saja kita perlu kekuatan Roh dan tidak dapat kita berjuang sendirian.  Mari libatkan Roh Kudus untuk memperbaharui hidup kita setiap hari, dan disiplinkan diri kita setiap hari dengan firman dan doa.

Kedaulatan Hidup

Mazmur 45:6
(45-7) Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran.

Bayangkan jika seorang raja menyerahkan kedaulatannya dalam kedaulatan Allah.  Betapa tentram dan damai sejahternya negeri tersebut.  Walaupun mungkin bukan berarti tanpa masalah, tapi raja tersebut tidak perlu kuatir atas segala sesuatu yang terjadi karena Tuhan campur tangan dan bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan negeri tersebut.

Begitu juga dengan hidup kita.  Hidup kita bukan milik kita sendiri lagi sejak kita memutuskan untuk menyerahkan "kedaulatan" hidup kita ke dalam tangan Tuhan.  Dia yang akan menopang hidup kita dengan kebenaranNya.  Menyerahkan kedaulatan hidup kita berarti mengizinkan rencana dan kehendakNya yang terjadi atas kita.  Itu juga berarti menyerahkan kehendak, cita-cita, ego, dan keinginan daging kita dan mengizinkan rancanganNya yang terjadi atas hidup kita.

Tetap Kuat dalam Masalah

Mazmur 44
6  (44-7) Sebab bukan kepada panahku aku percaya, dan pedangkupun tidak memberi aku kemenangan,
7  (44-8) tetapi Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu.

Satu hal yang saya kagumi dari Daud adalah tentang kehidupannya.  Dalam kitab Mazmur, kita bisa melihat bahwa hidupnya mengalami banyak masalah, tekanan, ketakutan, teror, pengkhianatan, dan lain sebagainya.  Namun ia tidak meninggalkan Tuhan dan tetap menaruh harapannya kepada Tuhan.  Ia tetap percaya bahwa Allah adalah kekuatannya, tempat persembunyiannya, gunung batunya, kota bentengnya, dan juga gembala yang baik baginya.  Masalah tidak membuatnya kecewa dan meninggalkan Tuhan, tetapi semakin melekat dengan Tuhan.

Hari-hari ini, ketika Tuhan mengizinkan masalah ada dalam kehidupan kita, ingatlah Daud yang selalu bermazmur dan berdoa memuji Allahnya, bersyukur selalu walaupun tidak ada keadaan positif yang menjadi alasannya untuk mengucap syukur.

Masalah: Responi dengan Positif

Yohanes 5
5  Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
6  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
7  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

Masalah diizinkan Tuhan terjadi bukan untuk membatasi iman kita dan membuat kita putus asa.  Sebaliknya, masalah seharusnya menjadi latihan bagi kita untuk melihat secara roh pekerjaan Tuhan yang luar biasa dinyatakan dalam hidup kita.  Seringkali respon yang negatif terlontar begitu saja dari mulut kita dan itulah yang kita imani dalam roh kita.  Mari kita jaga hati kita, tetap berpegang teguh pada pengharapan yang dari Tuhan, karena Tuhanlah Allah penolong kita dan Ia akan menolong kita tepat pada waktuNya.

Hidup dalam Kerajaan Allah

Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."

Barangsiapa yang dilahirkan kembali adalah mereka yang telah sebelumnya "mati".  Untuk melihat kerajaan Allah, kita tidak bisa melihat dengan kedagingan dan mata duniawikita.  Sebaliknya, kita harus "mematikan" ego, kehendak bebas, dan kedagingan kita sendiri untuk melihat Allah.

Hidup dalam kerajaan Allah adalah hidup dalam otoritas pemerintahan Allah, bukan lagi kehendak kita, tapi kehendak Tuhan yang terjadi atas hidup kita.

Kasih itu ........ ?

Rasanya sulit membaca dan merenungkan firman mengenai kasih, saat kita tidak sedang memiliki masalah dengan siapapun.  Mengasihi itu bukan sekedar tersenyum bagi orang-orang yang tidak kita kenal atau memberikan hadiah untuk orang-orang terdekat saat ulang tahun, atau membalas perlakuan baik orang-orang yang sudah berlaku baik kepada kita.

Mengasihi adalah sebuah tindakan yang aktif.
1 Yoh 4: 19
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Sebuah tindakan kasih dimulai dengan sebuah inisiatif.  Bukan menunggu perlakuan baik yang kita dapatkan dari orang lain.

Mengasihi adalah memberi "sesuaatu" yang ada pada kita untuk orang lain.  Seharusnya mengasihi adalah menyakiti kedagingan kita karena ada sesuatu yang kita punya, kita berikan untuk orang lain: waktu kita, perhatian kita, uang kita, bahkan "harta" kita yang berharga, seperti ego kita, status kita, dan jabatan sosial kita.

Mengasihi tanpa mengorbankan apapun bukanlah mengasihi yang sebenarnya.  Yang Allah inginkan dari kita bukanlah sekedar mengasihi seperti yang kita sering bayangkan. Mengasihi yang sesungguhnya adalah seperti Yesus mengasihi kita walaupun kita belum mengenal Dia dan masih berdosa, dan memberikan kesempatan kepada kita setiap hari untuk melakukan yang terbaik, dan memberikan pengampunan lagi saat kita gagal, dan melupakan serta tidak mengingat lagi dosa yang sudah kita lakukan di masa lalu.  Tindakan kasih yang besar dari Yesus ditunjukkan dengan melepaskan tahta kerajaanNya dan memberikan nyawaNya untuk menebus dosa-dosa kita.

Kita adalah orang-orang yang telah diampuni dan menerima kasih karunia.  Apakah kita juga sudah menjadi orang yang mengampuni dan memberikan "kasih karunia" untuk orang lain yang bersalah pada kita?

Hadiah Terindah

2 Peter 1: 3-11 
Don't Put It Off
 3-4Everything that goes into a life of pleasing God has been miraculously given to us by getting to know, personally and intimately, the One who invited us to God. The best invitation we ever received! We were also given absolutely terrific promises to pass on to you—your tickets to participation in the life of God after you turned your back on a world corrupted by lust.  5-9So don't lose a minute in building on what you've been given, complementing your basic faith with good character, spiritual understanding, alert discipline, passionate patience, reverent wonder, warm friendliness, and generous love, each dimension fitting into and developing the others. With these qualities active and growing in your lives, no grass will grow under your feet, no day will pass without its reward as you mature in your experience of our Master Jesus. Without these qualities you can't see what's right before you, oblivious that your old sinful life has been wiped off the books.
 10-11So, friends, confirm God's invitation to you, his choice of you. Don't put it off; do it now. Do this, and you'll have your life on a firm footing, the streets paved and the way wide open into the eternal kingdom of our Master and Savior, Jesus Christ.


Kita telah diberikan sebuah panggilan (invitation) yang sangat luar biasa oleh Tuhan, yaitu memiliki pengenalan akan Tuhan secara personal dan intim, sebagai Bapa dan sahabat bagi kita.  Tidak semua orang mendapatkan undangan ini.  Tuhan telah memilih pada mulanya orang-orang yang mendapatkan hak istimewa ini.  Ini adalah tiket kita untuk menuju pada hidup kesempurnaan akan Kristus, di tengah dunia yang penuh dengan hawa nafsu.

Oleh karena itu, mari jangan sia-siakan apa yang telah kita miliki, yang telah Tuhan berikan.  Perlengkapi imanmu dengan karakter yang baik, pengenalan roh, disiplin yang konsisten, ketekunan yang bergairah, kasih terhadap sesama dan kepada semua orang.  Dengan semua kualitas iman yang seperti ini, kita akan terus bertumbuh menjadi dewasa dalam pengalaman rohani kita bersama Tuhan.

Mari kita terima panggilan (undangan) Allah untukmu, karena Allah telah memilihmu dan bukan orang lain.  Jangan sia-siakan itu, lakukan sekarang dan kamu akan melihat pintu kemuliaan surga terbuka lebar kepada kerajaan kekal Yesus Kristus Tuhan.

Share The Words

Membagikan firman lewat sms atau BBM sepertinya adalah hal sia-sia dan tidak berguna.  Aku pikir, ah, belum tentu dibaca karena aku kirim setiap hari, kadang direspon pun tidak.  Melelahkan karena aku harus menyediakan waktu untuk itu, tapi kelihatannya tanpa hasil dan tidak membawa perubahan apa-apa.

Hari ini aku ditegur Tuhan untuk setia dalam perkara kecil.  Membagikan firman kepada seseorang yang engkau anggap penting adalah sebuah pelayanan.  Lakukan hanya untuk Tuhan, dan jangan sekali-kali untuk manusia dan mengharapkan "imbalan" seperti pujian dari orang lain.  Kamu tidak tahu bahwa Tuhan bekerja juga lewat perkara-perkara kecil dan mungkin suatu saat dia sedang membutuhkan firman itu dan dikuatkan oleh sharingmu.

Jangan pernah berhenti, teruslah bagikan firman kepada orang lain dan setialah dalam "pelayanan jari"mu, lakukan YANG TERBAIK untuk Tuhan, lakukan apa yang kamu bisa lakukan untuk Tuhan.

Let's share... :)